Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejak SD Yatim Piatu, Kartini Margatirta Wujudkan Pendidikan Berbekal Biaya Upah Buruh Pabrik

Banten, Perssigap88.co.id - Siti Rohmah patut dianggap sebagai "Kartini Margatirta" yang berjuang untuk mengentaskan kebodohan tanpa pamrih di kampungnya, Nangklak Desa Margatirta Kecamatan Cimarga Kabupaten Lebak. Wanita yang lahir dari keluarga buruh tani ini memiliki semangat kepedulian yang tinggi terhadap dunia pendidikan.


"Saya bertekad dengan segala kemampuan agar anak-anak di Kampung Nangklak dan sekitarnya dapat mengenyam dunia pendidikan agama dan pendidikan umum, jangan sampai ada yang buta huruf. Pendidikan menuntut ilmu harus tetap berjalan dalam kondisi apapun, sejak lahir sampai dengan akhir hayatnya," kata Siti Rochmah, Rabu (08/09/2021).

Meski ketika menginjak pendidikan di Sekolah Dasar (SD) sudah menjadi anak yatim piatu, namun keinginan untuk terus belajar tak pernah padam. 

Selepas tamat pendidikan di SD Gumuruh tahun 1992, ia kabur  merantau meninggalkan adiknya, Subhan, mendatangi H Jujum orang yang mengurus kakaknya di Kampung Ciburuy, Petir, Kabupaten Serang, untuk menuntut ilmu di MTs dan Sekolah Aliyah.

"Saya berusaha menjadi anak yang baik dan patuh kepada orang yang mengurus saya. Ketika selesai mengikuti pelajaran di sekolah, saya berusaha membantu bapak dan ibu haji di kebun atau di sawah dan membantu pekerjaan lainya. Keinginan saya tak muluk-muluk, tetap bisa mempertahankan hidup, bisa sekolah dan menjadi guru," aku Siti Rochmah.

Lulus Aliyah, Siti Rochmah bekerja di sebuah pabrik. Dengan upah sebagai buruh, ia harus pandai mengatur waktu dan keuangan. Siang bekerja dan malam kuliah atau sebaliknya, hingga pada tahun 2004 lulus Strata satu (S1) jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di STAIDA Kota Tangerang.

Selanjutnya, ia ikut mengembangkan dunia pendidikan selama 13 tahun di Kota Tangerang dan sempat mengelola Taman Pendidikan Qur'an (TPQ) dengan jumlah murid 60 orang.

Pada 2018, ibu dari dua anak ini bersama suaminya yang buruh pabrik pulang ke kampung halamannya. Mengetahui ada sebuah bangunan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang sudah tidak di urus karena bubar kemudian iapun menemui Abah Enjen, seorang guru Sekolah Dasar (SD) untuk menceritakan niatnya mengelola pendidikan Madrasah Ibtidaiyah dengan memanfaatkan gedung yang sudah rusak.

Atas bantuan warga, pada tahun 2019-2020 berdiri Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Raudhatul Athfal (RA) Nurul Falah, dengan status masih menginduk ke Madrasah Ibtidaiyah (MI) An-Nur, di Kampung Bahbul.

"Saya ingin menanamkan pengertian kepada masyarakat bahwa pendidikan itu sangatlah penting, baik pendidikan agama maupun pendidikan umum. Saya ingin melihat generasi penerus di Desa Margatirta bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yg lebih tinggi, sehingga bisa membangun kampungnya, bisa membangun desanya menjadi maju dan mandiri," ujarnya.

Menurutnya, untuk biaya operasional pendidikan RA, sepenuhnya bergantung kepada sumbangan atau iuran pendidikan dari para orang tua murid sebesar Rp 30 ribu/bulan. "Kalau orang tua murid bayar, saya dapat sekitar Rp 300 ribu/bulan. Tapi itu pun, habis juga untuk membeli peralatan sekolah.

Untuk pengadaan buku atau bahan bacaan lainnya, ia sering minta kepada rekan-rekan di Tangerang dan para dermawan lainya. Ada yang menyumbang buku-buku bekas dan ia terima dengan senang, yang penting buku itu masih bisa dibaca. 

Kendati dalam keterbatasan, sekolah yang dikelolanya sering mengikuti berbagai perlombaan sampai ditingkat kecamatan dan pernah beberapa kali menyabet  juara nomor wahid. Untuk kegiatan tersebut, ia harus "memutar" otak dan berusaha "tebal muka", meminta bantuan rekan-rekan sesama buruh pabrik saat ia bekerja di Tangerang untuk biaya operasional lomba. Ia pun bersyukur karena anak-anak MI Nurul Falah, sudah hapal 10 surat dalam Alquran.

Tak lupa, Siti Rohmah pun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi dukungan terhadap perjuangannya.

"Selama mengelola pendidikan di MI dan RA, Kepala Desa Margatirta, Mahfudin, pernah datang sekali sewaktu ikhtifalan (kenaikan kelas) dan menyumbang Rp 350 ribu. Saya berterimakasih sudah menyumbang," kata Siti Rochmah. 

Dihubungi terpisah, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Margatirta, Sarwila mengaku akan menemui Siti Rohmah untuk mengetahui lebih jauh kiprah dan rencananya dalam menggiatkan pendidikan di daerahnya.

"Saya sangat mendukung madrasah tersebut apalagi bergerak di bidang pendidikan agama, nanti saya akan menemuinya untuk dibahas agar pendidikan di desa kami semakin maju," lontar Sarwila yang juga merupakan salah satu pengurus PABPDSI Lebak, Rabu (08/09/2021).

(Fay)



Wastap Redaksi : 085231450077


 

Posting Komentar untuk "Sejak SD Yatim Piatu, Kartini Margatirta Wujudkan Pendidikan Berbekal Biaya Upah Buruh Pabrik"

Pasang Iklan / Adv Bawah ini.