Skip to content Skip to sidebar Skip to footer
test

*Covid-19 sebuah konspirasi atau bukan?, mari selamatkan dunia*

Jakarta, perssigap88.co.id - Banyak pakar dan ahli intelijen dunia menyatakan, 'Virus itu diciptakan oleh AS.' Mungkin kita akan tersenyum atau berpikir lebih serius tentang analisis ini.



Pengamat Militer Wibisono mengatakan ke awak media di jakarta rabo (25/03/2020) "Saya termasuk orang yang tidak pernah percaya dengan teori konspirasi,namun saya percaya politik penuh dengan konspirasi,"

“Saya mencoba melakukan desk research terhadap COVID-19 ini. Sekedar untuk mengetahui darimana asalnya dan mengapa bisa muncul pertama kali, dan akhirnya menjadi Pandemi yang mencekam di seluruh dunia.” ujar wibi 

Begini analisisnya, dalam dunia yang serba terbuka saat ini, adalah konyol kalau kita bergantung pada satu literasi berita media saja.

Pertanyannya, Apa Virus itu dari China?

Analisis saya, satu satunya Lab yang punya sample Virus hidup dengan lima jenis GEN adalah Bio-Lab militer USA di Fort Detrick, Maryland. Itu sangat mungkin tercipta virus baru disitu. Sementara Lab Wuhan di China hanya punya satu sample jenis virus, yang tak mungkin bisa melahirkan varietas jenis virus baru.

Para ahli mengatakan epidemiologi dan farmakologis Jepang dan Taiwan. Mereka bilang corona-virus baru berasal dari AS.

Faktanya, Pada agustus 2019, dokter dari Taiwan mencatat. Ada pasien di AS menderita pusing dan sesak napas. Dia menulis laporan kepada kepada pejabat AS. Bahwa penyebab kematian pasien itu diduga karena virus corona. Tetapi peringatan itu diabaikan oleh pejabat Amerika.

Pada bulan September 2019, Warga Jepang di Hawai terinfeksi virus corona. Padahal dia belum pernah ke China, artinya infeksi ini terjadi di AS jauh sebelum terjadi wabah di Wuhan. Berdasarkan data Agustus 2019, kematian pasien akibat virus itu sekitar 10 ribu orang di 22 negara bagian AS.

Salah satu propaganda dari konglomerasi Pabrik Rokok. Mereka gunakan tangan American Medical Association untuk membunuh bisnis rokok Vaping, dengan mengatakan bahwa penyebab kematian adalah aktifitas vaping dari rokok elektrik. Sehingga bisnis rokok konvensional tetap, karena sebelum peristiwa kematian pasien itu, CDC, Centers for Disease Control and Prevention telah menghentikan bio-lab Militer AS di Fort Detrick, Maryland, karena tidak adanya perlindungan terhadap kebocoran patogen.

Selanjutnya Pada bulan Oktober 2019, di media massa China, ada berita tentang Pertandingan militer dunia atau The World Military Games. Lima atlet dari 200 atlet AS yang ikut dalam WMG dirawat di Rumah Sakit di Wuhan.

Ada yang terinfeksi virus, tapi apa jenis virusnya, waktu itu belum diketahui kepastiannya. Event ini berakhir, tepat dua minggu sebelum kasus Wuhan merebak. Atau tepatnya awal november 2019. Nah anehnya, pada waktu event WMG digelar, juga berlangsung event 201 di John Hopkins Center for Health Security di kampus Institut John Hopkins yang terletak di Baltimore, Maryland-AS. Ajang 201 tersebut disokong penuh oleh Bill Gates and Melinda Gates Foundation, Big Pharma (GAVI) dan enggak ketinggalan World Economic Forum (WEF). Pada acara itu, diadakan simulasi latihan pandemi tingkat tinggi yang diberi kode nCov-2019. Simulasi tersebut menghasilkan 65 juta total kematian di seluruh dunia dan membuat pasar keuangan internasional ambles sekitar 20%.

"Saya membaca artikel yang ditulis oleh Daniel Lucey, seorang ahli penyakit menular di Universitas Georgetown di Washington, Ia mengatakan dalam sebuah artikel di majalah Science bahwa manusia terinfeksi pertama kali bukan di Wuhan tetapi tempat lain. Tetapi ada juga yang bilang pada pada tanggal 18 september 2019, yang pasti bukan berasal dari pasar seafood di Wuhan." Jelas wibi

Makalah dari Daniel Lucey itu diperkuat oleh peneliti China dari China academy science. Dalam artikelnya menyampaikan rincian tentang 41 pasien pertama yang dirawat di rumah sakit. Mereka positip terinfeksi apa yang disebut dengan novel coronavirus 2019 (2019-nCoV). Pertama kali, pasien jatuh sakit pada 1 Desember 2019 dan tidak memiliki hubungan dengan pasar seafood, data mereka juga menunjukkan bahwa, secara total, 13 dari 41 kasus tidak pernah ke pasar seafood.

Walau sebagian besar memang punya catatan pergi ke pasar Seafood, tetapi itu menunjukan penyebaran virus terjadi sebelum bulan desember. Pastinya bulan November 2019 atau lebih awal.

Ada laporan dari Kristian Andersen ahli biologi evolusi di Scripps Research Institute yang telah menganalisis urutan 2019-nCoV untuk mencoba memperjelas asal muasal virus corona. Dia mengatakan skenario yang masuk akal adalah orang yang terinfeksi membawa virus ke pasar seafood. Jelas ya. Jangan dibalik. Bukan seafood sebagai penyebar tetapi manusia. Menurut artikel Science, pada 25 januari 2020, Andersen memposting di situs web penelitian virologi tentang analisisnya terhadap 27 genom 2019-nCoV. Dia menyimpulkan kelahiran Covid 2019 itu pada tanggal 1 Oktober 2019.

Kalau dilihat dari urutan acara World Military Games pada tanggal 18-27 Oktober, bisa jadi memang Covid 2019 itu sudah ada pada lima pasien lima atlet AS, Dari sanalah awal penyebaran. Pasien nol Covid 2019 itu adalah kelima pasien asal AS itu di China. Setelah itu ada hari raya imlek di China. Di mana terjadi eksodus besar besaran orang kota ke desa untuk merayakan imlek di kampung halamannya. Kerumunan orang banyak tak bisa dihindari. Intelijen China cepat mengetahui akan serangan Covid 2019 itu. China tidak mau ambil resiko terjadi penyebaran virus corona meluas. Apalagi di saat musim dingin. Dengan cepat pemerintah China lockdown kota Wuhan.

"Coba bayangkan. Andaikan China terlambat mengantisipasi itu, diperkirakan 16 juta orang mati di Wuhan. Itu lebih dahsyat dari bom Atom Nagasaki Hirosima dijepang. Kemungkinan kalau China gagal dalam perang melawan Covid 2019, China akan bernasib sama dengan Jepang. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Justru dengan adanya wabah ini, dunia tahu siapa itu AS dan siapa itu China. Kini kebenaran menemukan jalannya sendiri“ Katanya.

Bagaimana dengan Virus yang menyerang Iran dan Italia?

Hasil penelitian membuktikan bahwa varietas genom virus di Iran dan Italia, setelah diurutkan, ternyata tidak memiliki kesamaan dari varietas yang menginfeksi China. Artinya itu berasal dari tempat lain.

Nahh...kesimpulannya bahwa penyebaran virus di luar China bukan berasal dari China. Ini semakin membuktikan bahwa Virus Covide-19 itu memang di created oleh manusia melalui rekayasa di Lab. Itu hanya mungkin AS. Karena hanya AS satu-satunya negara yang punya varietas lengkap virus untuk menciptakan satu varietas baru.

Bukan hanya Covid 2019, MERS awalnya diyakini berasal dari seorang pasien di Arab Saudi pada Juni 2012, tetapi kemudian riset membuktikan MERS itu berasal dari Yordania, pertama kali terkena virus pada bulan april tahun yang sama. Artinya kan bukan dari Arab tetapi dari Yordan. Jadi kita harus hati hati membaca berita resmi. Bahwa media Barat selalu begitu bersemangat untuk memberitakan seperti kasus SARS, MERS, dan ZIKA, yang semuanya terbukti salah. Sama halnya, media Barat membanjiri berita berbulan-bulan tentang virus COVID-19 yang berasal dari pasar makanan laut Wuhan, yang disebabkan oleh orang yang makan kelelawar dan hewan liar. Semua ini terbukti.

"Ini bagian dari rangkaian perang dagang. Sejarah perang dunia kedua berawal dari perang dagang juga. Saling embargo satu sama lain. Akhirnya perang fisik tak terelakan. Kini mungkin orang enggak mau lagi perang fisik. Karena ongkosnya mahal. Tetapi dengan sains, orang bisa membunuh banyak orang tanpa ada kerusakan,akhirnya menggunakan rekayasa biologis," tegas wibi.

Kalau benar AS yang menciptakan, mengapa Virus itu juga menyerang sekutu AS seperti Eropa, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Singapore, Arab dan lain lain, termasuk Indonesia?

AS melihat fenomena perang dagang dimana para sekutunya tidak sepenuhnya mendukungnya menghadapi China. Misal, kedekatan Arab dengan China dalam proyek jalur sutera, belum lagi bantuan China kepada Italia dalam menyelesaikan krisis gagal bayar utang, investasi Korea dan Jepang yang sangat besar di China, Indonesia dalam kasus laut China selatan yang terkesan tidak berpihak kepada AS. Iran, yang semakin garang dengan AS, dan ancaman bagi agenda AS memecah belah Irak. Semua ada alasan yang mudah ditebak dan ditelusuri.

"Bagi masyarakat modern, kematian akibat wabah itu jauh lebih menakutkan daripada perang fisik. Apalagi dalam sistem demokrasi, kepanikan sangat rentan menciptakan chaos sosial. Dalam pasar serba terbuka, kepanikan sangat mudah menciptakan chaos market. Lihatlah fakta sekarang. Semua bursa berjatuhan mengancam mata uang dan index. Setiap kepala negara harus secepat mungkin mengatasi wabah itu atau mereka jatuh.” ulas wibi.

Apakah AS juga terancam kepanikan akibat virus corona?

Itu juga bagian dari rangkaian elite AS untuk memaksa publik AS menerima strategi AS dalam memenangi perang semesta lewat ekonomi dan teknologi. Ingat enggak kasus Pearl Harbour dulu?, yang seakan sengaja membiarkan penerbang pesawat tempur Jepang masuk wilayah AS untuk menghabisi pangkalan perang AS di Hawai. Dari situlah legitimasi politik tercipta agar AS masuk dalam perang dunia ketiga.

Sudah terbukti agenda AS menghancurkan China gagal, terus gimana dengan sekutunya. Kan mereka tidak sekuat Cina menghadapi wabah virus corona.AS punya solusi di tengah kepanikan itu?

Tergantung sekutu AS. Apakah mereka masih komitmen dengan Konsesus Washington paska jatuhnya Lehman tahun 2008? Kalau komit, masalah virus corona ini akan selesai cepat. Setelah itu, situasi akan di bawah kendali AS untuk memenangkan perang dengan China dan menguasai dunia.

Saya bisa mengerti tapi sulit bisa menerima kalau benar itu bagian dari agenda AS. Terlalu mahal ongkosnya bagi kemanusiaan, "Politik mana pernah berpikir tentang korban kemanusiaan, inilah bentuk perang modern", tegasnya

Sebenarnya perang corona ini adalah salah satu wujud dari proxywar. Perangnya nyata ada,korbannya berjatuhan, tapi pelakunya menjadi tersamar oleh perang kata dimana masing- masing punya penjelasan sendiri berdasarkan teory konspirasi yang dibangun dari rangkaian narative utk saling memojokan. Kalau pihak pihak yang berperang itu negara kecil mudah melakukan investigasi dan bisa diseret kepengadilan.

"Namun bila pihak pihak yang bersengketa adalah negara adidaya siapa yang akan menyeret mereka?, PBB pun  tergantung negara adidaya. Paling banter para analis politik dan intelijen yang akan berdebat berkepanjangan dalam artikel dan buku. Pemenangnya bisa dilihat apakah buku tersebut jadi the best seller atau tidak, mari kita selamatkan dunia," pungkas wibi.



Hadi