Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Akibat Kedelai Naik, Pengrajin Tahu Tempe di Lebak Selatan Nyaris Bangkrut

Banten, Perssigap88.co.id - Akhir-akhir ini pengrajin tahu dan tempe di Lebak Selatan mengeluh. Lantaran, harga kedelai dipasaran melonjak dari Rp 7400,- per kg hingga Rp 9000,- per kg. Dengan kenaikan ini pengusaha kecil bisa merugi dan terancam bangkrut. Sementara, keberadaan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) wilayah Lebak selatan pun dipertanyakan.
Raheli, (35), pelaku UMKM Tahu dan Tempe, asal Kampung Nambo, Desa Pagelaran, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten, mengungkapkan, sudah sekitar dua mingguan harga kedelai naik dan sebagian rekan-rekan seprofesinya tidak berproduksi karena mahal dan sulitnya mendapatkan kedelai. Kata dia, saat ini harga kedelai dipasaran mencapai Rp 7.400,- per kg hingga Rp 9.000,-.

"Khususnya di Lebak Selatan ini mahal dan sulit untuk mendapatkan kedelai, karena para pengepul (penjual) kedelai tidak berani menyetok banyak, karena dikhawatirkan kedelai turun kembali. Artinya ini harus benar-benar ada kepastian kestabilan harga kedelai," kata Raheli, Rabu, (03/11/2020).

Tak hanya itu, Raheli pun meminta agar pihak pemerintah benar-benar menata sekaligus melakukan pembinaan terhadap pelaku UMKM mulai dari perijinan hingga solusi-solusi jika terdapat kesulitan, termasuk ketersediaan dan harga bahan baku itu sendiri.

"Ada sekitar 72 pelaku UMKM pembuatan tahu dan tempe di wilayah Lebak Selatan. Saya sudah memiliki ijin, tidak tahu yang lainnya mah, untuk itu silahkan di cek satu persatu, yang lainnya udah dapat ijin belum," tandas Raheli, yang sudah 10 tahun menggeluti usaha tahu dan tempe.

Ia pun menyinggung kiprah dan keberadaan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (KOPTI) Lebak selatan.

Menurutnya, kehadiran KOPTI di wilayah Lebak Selatan sangat dibutuhkan, termasuk mengontrol stabilisasi harga kedelai.

"Setahu saya, saat ini di wilayah Lebak Selatan tidak ada KOPTI karena tidak pernah nampak, bahkan strukturnya pun saya tidak tau, padahal itu sangat dibutuhkan," terangnya.

Sementara itu, Camat Malingping, Cece Saputra, mengaku belum mengetahui terkait KOPTI khususnya di Kecamatan Malingping, "Waalaikum salam, Saya belum tanya pak ekbang ka," jawabnya saat diminta informasinya melalui pesan WhatsApp.

Terpisah, Sekertaris Dinas Koperasi dan UKM Lebak, Omas Irawan, menuturkan, pada saat normal tugas pihaknya hanya sebatas memfasilitasi program-program bantuan alat dan sebagainya.

"Pada saat normal kita tidak boleh bantuan seperti yang dilaksanakan ketika Pandemi saat ini," jawab dia, saat dikonfirmasi melalui komunikasi WhatsApp

Omas menambahkan, Bahwa sejak tahun 2017 hingga sekarang Dinas Koperasi tidak mengeluarkan rekomendasi terkait fasilitasi bantuan permodalan ataupun bantuan apapun.

"Pada prinsipnya kita tidak memilah-milah pelaku usahanya seperti apa? Kalau kita sudah punya data itu sudah menjadi mitra kita. Ini untuk peningkatan visi misi ibu Bupati, perekonomian masyarakat. Selama ini saya belum denger dan selama ini saya belum tau beberapa KOPTI yang aktif dan tidak aktif, belum ada koordinasi," tuturnya.



(Fay)








Posting Komentar untuk "Akibat Kedelai Naik, Pengrajin Tahu Tempe di Lebak Selatan Nyaris Bangkrut"