Skip to content Skip to sidebar Skip to footer
test

TNI Pantas Diajak Berada Di Garis Terdepan Menghalau Covid-19*

Sampang  perssigap88.co.id  - Upaya mencegah dan menghalau virus Corona patut melibatkan TNI kita, karena lebih tangguh dan dapat dipercaya menghadang virus corona maupun dampak dari terusannya. 


Pemberian bantuan atau bingkisan untuk warga masyarakat agar tetap mampu bertahan di rumah perlu dilakukan secara seksama dan kehati-hatian yang serius agar tidak sampai menimbulkan masalah baru, seperti kecemburuan sosial yang terus merajallela dalam masyarakat. 

Pemberian bahan pangan secara langsung termasuk bantuan lainnya dari pemerintah daerah dan pusat serta bantuan langsung dari Presiden bukan tak bagus dilakukan, tapi tekniknya tidak perlu sensasional begitu dengan menyambangi langsung warga masyarakat hingga terkesan jadi berlebihan atau pencitraan.

Rasa cemburu itu boleh jadi bukan disebabkan oleh nilai bantuan yang diberikan itu belum juga diterima sampai dua pekan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) mulai diberlakukan. Sebab tidak mungkin semua rakyat miskin bisa langsung ditemui dengan menerimanya langsung dari Presiden.

Kerja teknis seperti itu mengapa harus dibuat susah bila sesungguhnya  dapat dilakukan dari balik meja istana dengan mengerakan TNI kita, misalnya. 

Sebab rasa cemburu warga masyarakat sampai pekan kedua memasuki PSBB dilakukan jadi semakin miris karena sudah tidak pula bisa pulang ke kampung halaman atau mudik, sementara paket sembako yang ditunggu belum juga datang.

Keinginan warga masyarakat untuk ikut taat ajakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, bukan tak hendak dilakukan tetapi daya tahan hidup tanpa penghasilan karena tidak lagi bekerja, seperti terpaksa untuk keluar rumah atau pulang ke kampung atau mudik. Sebab hakekatnya sama dalam pengertian bertaruh, mati karena corona atau mati karena tidak bisa makan.

Hasrat untuk taat  pada ajakan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran  virus jahat itu sangat bisa diterima, asalkan saja desakan dari ancaman yang lain -- tidak bisa lagi bertahan di kota misalnya seperti kota besar agaknya bisalah diterima akal sehat.

Yang runyam, warga yang sangat memerlukan bantuan bahan pangan sampai hari ini semakin banyak yang gelisah. Karena mereka belum juga menerima bantuan yang dijanjikan itu.

Tentu saja yang lebih membuat  cemas jangan sampai daya tahan warga masyarakat ini menimbulkan masalah baru. Entah apa saja bentuknya, tapi tetap saja tidak bisa dianggap enteng.

Apalagi dasarnya adalah kebutuhan hidup yang terus mendesak tanpa bisa ditunda-tunda. Dan saat  memasuki bulan Ramadhan yang sepatutnya dapat lebih hikmat dijalani tanpa harus merasa gundah pada menu berbuka puasa atau saat makan sahur dengan tenang dan senang bisa sambil merenung apa sebetulnya pertanda dari wabah ini yang  sesungguhnya.

Jadi agak naib ketika ancaman kematian sedang mengintai semua orang, masih ada juga pejabat di Indonesia yang tetap ingin melakukan bisnis "mencari duit" mengabaikan keselanatan jiwa dengan tetap memberikan kebebasan pada bangsa asing masuk ke negeri kita. Sementara kita sebagai pemilik negeri ini sedang mengisolasi diri dengan cara membatasi kegiatan serta menghindar dari kerumunan orang banyak.

Jadi agak ganjil bila masih ada orang yang mau  menjadikan pandemi ini seperti proyek guna mencari keuntungan atau kekayaan serta populeritas.

Karena itu jika pemerintah serius hendak  mencegah virus ganas ini yang telah menelan banyak korban, ada baiknya juga bila ide untuk ikut mengerahkan potensi besar TNI kita yang cukup kuat dan masih dapat dipercaya itu dalam hal kredibelitas dan keberpihakannya yang tulus untuk masyarakat. TNI kita jelas memiliki disiplin diri yang Tinggi dibanding instansi lainnya. 

Sebagai pelopor untuk memberi arahan bagi masyarakat agar lebih tertib dan patuh tak pulang kampung atau mudik pun, TNI bisa ditempatkan pada garis depan, termasuk dalam menyalurkan ragam bentuk bantuan yang mau disampaikan pada masyarakat. Jadi tidak perlu sampai Presiden sendiri yang harus menenteng paket sembako untuk dibagikan kepada setiap warga masyarakat. Karena pasti akan lebih elegan dan bermutu bila Presiden cukup mengupayakan saja tambahan bahan pangan dan nilai subsidi yang lebih baik dan lebih banyak supaya rakyat banyak mampu bertahan lebih kuat dan lebih betah berdiam diri di rumah. Sebab bila tidak, rakyat bisa makin ngotot ke luar rumah. Atau mau pula menjarah.

Sungguh ! Itulah kecemasan dan ketakutan saya.




Redaksi